Penerapan link and match antara SMK dengan industri terus digencarkan oleh pemerintah. Tujuannya, untuk menghasilkan tenaga kerja terampil yang sesuai dengan kebutuhan dunia industri.

Saat ini, pemerintah telah menerapkan hal tersebut di kawasan Jawa Timur, yang ditargetkan akan menghasilkan sebanyak 75.000 tenaga kerja terampil per tahun. Selanjutnya akan dilaksanakan di Jawa Barat dan Jawa Tengah, sehingga ditargetkan mampu menghasilkan sebanyak 175.000 tenaga kerja terampil per tahun.

“Dengan persaingan yang semakin ketat saat ini, kami berharap agar para pelaku industri dapat selalu meningkatkan kompetensi tenaga kerjanya dalam rangka peningkatan daya saing, khususnya melalui program pendidikan dan pelatihan vokasi industri,” kata Plt. Sekjen Kementerian Perindustrian Haris Munandar dalam keterangan tertulis yang diterima, Senin (20/2/2017).

Peningkatan kompetensi dan ketersediaan tenaga kerja terampil ini juga dilakukan oleh swasta. PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, produsen mobil terbesar di dalam negeri menilai peningkatan mutu dan kualitas sumber daya manusia sangat penting.

“Indonesia memiliki 100 juta tenaga kerja, dan hanya sedikit yang terlatih. Maka pendidikan pelatihan sangat penting untuk sektor industri,” kata Bob Azam, Direktur Administrasi PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia.

Toyota sendiri, di pabrik yang terletak di Karawang melakukan program pemagangan sebagai salah satu upaya untuk mendidik dan melatih tenaga kerja muda untuk kemudian direkrut di perusahaan.

Pendidikan dan pelatihan ini penting, mengingat tenaga kerja Indonesia meskipun berupah murah namun memiliki produktivitas yang sangat rencah. Padahal yang menjadi pertimbangan utama bagi industri adalah produktivitas, bukan upah.

“Kami sepakat melakukan pembinaan, dan ada tiga sektor yang harus bekerjasama, yakni pemerintah, swasta, dan akademisi,” ujarnya.

Merujuk data Badan Pusat Statistik, jumlah tenaga kerja berdasarkan lapangan pekerjaan utama pada tahun 2016 mencapai 120,64 juta orang, di mana yang bekerja di sektor industri sebanyak 15,97 juta orang dengan kontribusi terbesar dari Provinsi Jawa Barat sekitar 3,89 juta orang (24,93%), Jawa Tengah 3,21 juta orang (20,16%), dan Jawa Timur sebanyak 2,94 juta orang (18,46%).